Visit Klaten – Sejarah Asal Mula Kecamatan Pedan Klaten. Pedan merupakan salah satu nama kecamatan yang terdapat di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan ini mempunyai luas 19,17 km² dan terdapat 14 Desa/kelurahan.

Nama desa/kelurahan di pedan antara lain Beji, Bendo, Jatimulyo, Jetis Wetan, Kalangan, Kaligawe, Keden, Kedungan, Lemahireng, Ngaren, Sobayan, Tambakboyo, Temuwangi dan Troketon.
Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pengunjung visitklaten[dot]com yang sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi website kami. Kami menerima segala masukkan dan kritikan agar web dan diri kami menjadi lebih baik lagi.
Sejarah Kecamatan Pedan
Di Kecamatan Pedan ini tidak ada dukuh maupun desa yang bernama Pedan. Pada umumnya, nama kecamatan diambil dari sebuah nama dukuh ataupun nama desa setempat.
Nama Pedan berasal dari kisah hidup Pangeran Pranowo. Pangeran Pranowo adalah seorang pelarian kerajaan Majapahit pada abad XIII. Kala itu, ajaran Islam masuk ke tanah Jawa dan terdapat pertentangan dengan pemeluk Hindu yang telah banyak dianut oleh orang-orang Majapahit.
Pangeran Pranowo beserta keluarga dan sahabatnya kemudian mengungsi ke daerah pinggiran agar bisa menghindari konflik. Di kawasan tersebut mereka bercocok tanam sayuran dan palawija untuk keperluan sehari-hari layaknya rakyat jelata.
Pangeran Pranowo menanam sebuah pohon beringin untuk berteduh setelah bekerja. Lambat laun kawasan tersebut menjadi ramai sebagai tempat transaksi sayuran atau Janganan. Pohon beringin tersebut sekarang dikenal sebagai Beringin Janganan.
Ramainya kawasan tersebut tidak membuat hati Pangeran Pranowo menjadi senang. Ia justru merasa cemas seandainya persembunyiannya selama ini terbongkar. Di tengah kegalauannya, ia memutuskan untuk melanjutkan penyamarannya dengan cara bertapa sembari menjemur diri seperti orang gila.
Setiap hari ia menjemur dirinya di tengah-tengah keramaian atau pepe di dalam bahasa Jawa. Ia pun lalu dikenal sebagai orang gila atau edan. Kebiasaan berjemur itulah yang kenudian orang-orang menyebut diringa Kyai Pepe atau Mbah Pepe.
Ketika dirasa penyamarannya berhasil, maka suatu hari Pangeran Pranowo berujar bahwa apabila daerah ini suatu ketika menjadi ramai, maka daerah ini diberi nama Pedan.
Pedan berasal dari kata pepe yang artinya berjemur dan edan yang artinya gila. Pepe dan edan adalah strategi sang pangeran untuk menyembunyikan identitasnya kala itu.
Terima kasih telah mengunjungi website kami.
Share jika bermanfaat, jika ada kritik, pertanyaan, tambahan atau saran silakan hubungi kami atau silakan isi di kolom komentar.