Apakah Sujud Syukur Harus Dalam Keadaan Suci?

Al quran

Dalam artikel kali ini kami akan mencoba sesekali berbagi tentang ilmu fiqih islam yaitu perihal Sujud Syukur. Jadi tidak hanya tentang wisata dan klaten, yang semoga bisa menambah wawasan keilmuan dan ketaqwaan sebagai seorang muslim.

Sujud syukur adalah salah satu dari sekian banyak tuntunan Rasulullah SAW untuk menyikapi nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai hamba-NYA.

Sujud syukur disunnahkan dilakukan ketika seseorang memperoleh nikmat dari Allah SWT. Seperti mendapatkan hadiah perlombaan, lahirnya seorang anak, lulus ujian, naik jabatan,dll.

Bisa juga dilakukan ketika seseorang terlepas atau selamat dari musibah. Misalnya selamat dari bencana alam (tanah longssor, gempa, kebakaran), sembuh dari sakit yang diderita, selamat dari kecelakaan, dll.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi dari Abu Bakrah, dikisahkan bahwa Rasulullah akan melakukan sujud syukur apabila memperoleh perkara yang membuat Rasul bahagia.

Diriwayatkan dari Abu Bakar Ra. berkata:

“Apabila Nabi Muhammad Saw. menerima berita yang menggembirakannya, biasanya beliau terus bersujud kepada Allah SWT”, (HR.Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf Ra. berkata,

“Suatu hari, Rasulullah keluar dari kediamannya. Tiba-tiba, beliau terperangah kemudian masuk kembali ke dalam, lalu beliau menghadap kiblat dan bersujud syukur lama sekali, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Jibril datang kepadaku mengatakan bahwa Allah berkata kepadamu, “Barang siapa membaca shalawat dan salam kepadamu maka Aku mengucapkan shalawat dan salam kepadanya,’ aku bersujud mensyukuri itu”, (HR.Ahmad dan Hakim).

Apakah Sujud Syukur Harus Dalam Keadaan Suci?

Muncul pertanyaaan, apakah disyaratkan dalam keadaan suci saat hendak melakukan sujud syukur?. Mengutip uraian Lembaga Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir, para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi apakah sujud syukur harus dalam kondisi bersuci dan menutup aurat, sebagaimana tata cara sujud di dalam shalat.

Menurut Imam Muhammad dan Abu Yusuf dari Mazhab Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, sujud syukur disyaratkan harus dalam kondisi suci dan menutup aurat, sebagaimana syarat sah yang berlaku dalam shalat.

Mereka merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa tidak diterima shalat seseorang kecuali dalam keadaan suci. Sujud syukur, dianalogikan seperti layaknya shalat yang lazim bersuci terlebih dahulu.

Sementara, menurut sebagian ulama yang lain, di antaranya ulama Mazhab Maliki, Ibnu Taimiyah, Ibnu al-Qayyim, asy-Syaukani, dan ash-Shan’ani, sujud syukur tidak disyarakatkan dalam keadaan suci dan menutup aurat sebagaimana syarat bersujud dalam shalat.

Mereka beralasan, banyak sahabat yang melaksanakan sujud syukur tanpa perlu berwudhu terlebih dahulu, sementara Rasul menyaksikan apa yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut tanpa mengoreksi sedikitpun.

Di penghujung pemaparannya, Lembaga ini menyatakan, dari uraian di atas maka boleh hukumnya melakukan sujud syukur tanpa harus bersuci terlebih dahulu merujuk pendapat ulama Mazhab Maliki dan yang sependapat.

Meskipun demikian, lebih utama apabila hendak bersujud syukur untuk bersuci dulu, berniat, kemudian menghadap kiblat. Namun, apabila berhalangan menyempurnakan sujud syukur dengan syarat tersebut, boleh-boleh saja bersujud syukur, sebagaimana pendapat yang memperbolehkan sujud syukur tanpa bersuci.

Imam Syafi’i mengatakan:

“Sujud syukur tidak seperti shalat, cukup dilakukan kapan saja, tidak harus suci, dan tidak perlu mengucapkan takbir dan salam. Boleh juga melakukan sujud syukur di atas kendaraan dengan isyarat ketika mendapatkan kegembiraan”.

Apakah Sujud Syukur Harus Dalam Keadaan Suci?

Terima kasih telah mengunjungi website kami.

Share jika bermanfaat, jika ada kritik, tambahan dan saran silakan hubungi kami atau silakan isi di kolom komentar.

Anda Mungkin Menyukai Ini

Post your Comments

NAME *
EMAIL *
Website